Selasa, 01 Maret 2011

KEPINGAN METAMORFOSA : dunia dalam kepingan cerita

Seperti mengurai simpul tali perak, ketika saya mendapat tugas mulia ini. Menceritakan sebagian dari seluruh pengalaman masa kecil yang sangat berharga sebenarnya tidaklah mudah. Karena , dibutuhkan ketelitian berpikir untuk mengukir kembali kisah – kisah lama. Setiap orang pasti punya sederet kisah dalam hidupnya, adakalanya kisah itu amat berharga sehingga sulit untuk dibagikan , akan tetapi ada juga deretan kisah menyedihkan yang juga kembali sulit untuk dibagikan. Padahal belum lama saya beranjak dari masa kecil, sekarang usia saya barulah menapak di jejak ke 18 dan akan beranjak ke jejak 19. Perjalanan yang masih singkat bukan ? ya benar, saya deskripsikan dan akhirnya saya beri nama bahwa kisah saya ini sebuah metamorfosa. Karena , usia saya saat ini merupakan sebuah metamorfosa dari usia ‘ulat’ dan ‘kepompong’. USIA METAMORFOSA ‘ulat’ : kegandrungan dongeng sebelum tidur Ketika saya mulai menulis, saya dilanda kebingungan. Setelahnya , saya berusaha memanggil kembali memoar dalam otak saya, berusaha mempreteli kembali data – data yang telah tersimpan apik dalam perangkat keras otak. Sejujurnya , saya orang yang tidak terlalu ingin , meninjau kembali kejadian masa lampau. Tapi ternyata , memang hidup itu harus dipenuhi oleh keseimbangan, ada depan ada pula belakang, ada kanan ada juga kiri. Maka , saya memulai dari apa yang ingin saya mulai, yakni dongeng. Ternyata dan memang pada kenyataannya dongeng sebelum tidur ini ada. Tidak hanya ada di lagu , tapi saya mengalaminya. Kira – kira usia pada waktu itu 5 – 6 tahun , ketika sang Ayah setiap malam tidak pernah absen mendongengi saya. Karena saya selalu menagih untuk didongengkan setiap malamnya , sang ayah selalu saja tidak kehabisan ide cerita, dan lucunya ceritanya itu – itu saja. Hanya terus dikembangkan olehnya ,jadilah berbeda. Dan yang paling membekas di ingatan saya , dongeng yang mengalir indah itu adalah dongeng “ si kancil makan mentimun”. Si kancil itu selalu hadir dengan versi – versi lain, jika Ayah saya sudah kehabisan stok cerita –seperti yang telah saya ceritakan sebelumnya-. Lebih sering Ayah saya mendongengkan cerita rakyat , legenda , mite dan fabel , nah fabel yang lagi – lagi sering diceritakan adalah si kelinci makan mentimun itu tadi. “ pak, certain lagi pak certain” desak saya ke Ayah, dan beliau sama sekali tidak keberatan untuk mengantar puterinya ini nyenyak dalam perjalanan mimpinya, pasti beliau menjawab “ iya, sekarang ceritanya si kancil dan buaya ya” tandas beliau , seraya langsung mengisahkan si kancil dan buayanya itu. Terkait dengan beragam kisah dongeng yang dikisahkan oleh sang Ayah kepada saya tersebut , akhirnya saat itu saya dilanda rasa penasaran akan sosok atau visualisasi dari penceritaan tersebut. Saya penasaran , seperti apa sih hewan kancil itu ? , lalu seperti apa pula timun mas ? , keong mas ? dan sederet cerita lainnya yang menyita rasa penasaran tadi. Karena rasa penasaran itu , sang Ayah sigap membawakan buku cerita bergambar karena dirasa olehnya sudah saatnya memberi saya asupan buku – buku yang tidak begitu berat , dan mudah dikenali melalui gambar. Ayah saya memang seorang Ayah yang hebat , beliau menyengajakan memberi rangsangan stimulus ke otak saya melalui media dongeng, baru setelah saya kegandrungan akan cerita dongeng serta akhirnya menimbulkan rasa penasaran akan tokoh – tokohnya , sang ayah memberikan asupan buku – buku cerita bergambar tersebut. Keranjingan saya pada serial cerita bergambar tersebut meningkat. Saya terus dipenuhi rasa penasaran akan tokoh – tokoh lainnya yang belum saya ketahui. Dongeng dari sang Ayah juga masih terus mengalir , malah cerita berkembang ke cerita – cerita nabi , cerita wayang , dan cerita sosial lainnya. Beranjak dari situ saat usia saya memasuki usia sekolah dasar , saya kembali dipenuhi buku cerita , dan kali ini saya sudah dapat mengeja sedikit demi sedikit , meski masih sangat terbata dan belum mengenali ceritanya seperti apa kecuali melalui pencitraan dan lisan , akan tetapi kegemaran saya terhadap cerita – cerita tersebut besar. Ada sesuatu yang menarik saat metamorfosa usia saya beranjak ke usia siap cerna ilmu atau sekolah dasar ini. Saat itu usia saya, sekitar 6 masuk ke 7 tahun menariknya saat itu saya tidak diperkenalkan sedikit pun dengan uang sampai ketika bersekolah hanya saya anak yang tidak mengerti nominal uang, dan pernah suatu ketika saya ingin jajan tapi kondisinya saat itu belum dijemput oleh asisten Ibu, karena sangat ingin saya akhirnya datangi tukang jajanan. Dan saya membawa sobekan – sobekan kertas , lalu saya serahkan ke bapak tukangnya dengan kepolosan saya yang mengira bawa lembaran kertas saja bisa membeli jajanan. Bapak tersebut hanya terkekeh, dan memberikan jajanannya ke saya karena iba mungkin. Jadi , saya tidak diperkenalkan dengan uang, sekecil apapun nilainya ,dan ini sungguh pelajaran disiplin yang luar biasa, karena saya sangat bisa merasakan manfaatnya. Selepas dari sedikit kisah menarik tersebut , saya saat itu terus dipenuhi rasa penasaran, sampai setiap kali Ayah saya pulang saya selalu “menodong” buku cerita. Padahal , -sekali lagi- saat itu saya belum lancar membaca, dan masih tahap mengeja. “ pak , bawa buku gambar lagi gak pak ? “ selalu seperti itu, dan saya menyebutnya bukan buku serial cerita, atau buku dongeng, tetapi buku gambar. Dan sang Ayah selalu berusaha tidak ingin membuat saya kecewa, digendongnya saya lalu, “ waah , iyaa. Tadi buku gambarnya lagi abis nduk , tapi bapak nanti pasti ceritain lagi kok nduk” kalau sudah seperti itu, tandanya akan ada lagi dongeng – dongeng pengganti dari buku serial bergambar yang tidak dibawakan beliau. Seperti itulah , masa – masa saya mengenali bacaan , melalui media dongeng setelah itu pencitraan , dan baru saya bisa membacanya. USIA METAMORFOSA ‘ulat’ : fenomena jatuh hati pada komik Usai serial cerita bergambar , Ayah saya mulai mengenalkan saya dengan bacaan lainnya dengan bacaan yang padat berisi. Saya mengatakannya bacaan padat berisi karena , komik itu adalah sebuah buku yang padat dengan tulisan dan gambar. Saya sangat senang, mata kecil saya berbinar melihat bahan bacaan lain lagi selain buku serial cerita bergambar dan buku pelajaran tentunya. Kondisinya , saat Ayah saya mulai membawakan komik – komik tersebut , saya sudah dapat membaca dengan lancar dan sudah memasuki usia 7 tahun , kelas 1 Sekolah Dasar. Pertama kali beliau mengenalkan buku padat berisi itu, dengan membacakan ceritanya, sebagai –lagi dan lagi- pengantar tidur. Setelahnya , saya mulai membacanya sendiri , meskipun awalnya baru melihat – lihat gambar dan membaca tulisannya sekilas , tapi saya mulai ‘jatuh hati’ dengan komik. Rasanya , seperti masuk dalam sebuah negeri antah berantah yang padat berisi , tak mengenal lelah, tak mengenal akhir. Komik yang dibawakan sang Ayah ialah komik jepang dan pastinya sangat popular , yaitu komik doraemon si baling bambu , lalu komik ninja hattori. Saya benar – benar seperti dalam adonan imajinasi saat membaca komik , saya bisa tertawa sendirian , dan sangat bisa ikut merasakan ada di dalamnya. Memang , kekuatan magis komik itu sangat kental, paduan antara hipnotis dan tarikan magnet dari komik ini begitu kuat sehingga saya sangat terpikat pada komik, saat itu. Dan , entah lagi – lagi atau tidak, saya menjadi anak yang satu – satunya sudah mengenal apa itu komik, di antara teman –teman lainnya khususnya teman perempuan. Fenomena jatuh hati pada komik ini terus berlanjut, dan bacaan komik saya pun tidak berkutat di komik yang itu – itu saja. Saya mulai membaca komik lainnya , seperti kobo chan , crayon shincan. Tak luput juga cerita bergambar lainnya, tetap menjadi bacaan. Cerita bergambar juga tidak berkutat pada serial dongeng saja, tetapi juga majalah anak – anak , yang saat itu sedang laris di pasaran , yakni majalah BOBO. Cerita yang selalu saya nantikan adalah cerita rona bonbon cs, juga putri nirmala, dan tentunya kisah paman bobo. Beranjak pada kisah jatuh hati dengan komik selanjutnya, saya menemukan sebuah komik yang begitu saya cintai sampai saat ini. Ketika itu saya sudah kelas 4 SD, dan saya jatuh hati entah untuk ke berapa kalinya , yang pasti berkali – kali tetapi, saya merasakan aura kecintaan yang berbeda pada komik yang satu ini. Komik yang tidak beruntung itu –karena dijatuhi hati oleh saya- , adalah komik manga jepang serial detektif conan. Saya dapat mengenal conan dikarenakan teman dekat saya , Icha namanya, keluarganya membuka taman bacaan sewa-pinjam-baca berbagai macam komik. Tentu saja , karena icha tersebut notabene teman dekat saya , maka saya pun dipersilakan dengan senang hati untuk membaca sepuasnya di taman bacaannya. Dan dari begitu banyaknya komik – komik bersebaran kebanyakan komik lucu pula, saya justru terpikat dengan komik semi mengerikan ini. Dalam kondisi saat itu, conan tidaklah terlalu populer di kalangan anak – anak, ketertarikan saya pada komik ini pun mengundang banyak penasaran dari teman – teman terdekat saya. Mereka mengikuti saya, mencoba untuk mencerna apa jalan ceritanya dan mencoba mencari sisi ketertarikannya dengan conan tapi ternyata mereka tidak bisa. Kebanyakan dari mereka berkomentar “ ini komik apaan sih nan ? , kok serem ya ?” tukas salah satu teman saya, lalu disambut yang lainnya lagi , “ tau nih nanda. Bacaannya gak jelas, gak ngerti ah”. Begitulah kurang lebih komentar dari teman – teman saya. Sulit menemukan sesama penggemar conan, dan saya rasakan sampai sekarang. Tidak banyak dari mereka menyukai animasi fiksi karangan Aoyama Gosho ini. USIA METAMORFOSA ‘kepompong’ : candu teenlit , efek sastra Kisah selanjutnya ini , berangkat dari usia kepompong saya. usia 13 tahun, yang sering dikatakan orang ‘Anak Baru Gede = ABG’. Saat ini , saya sedang terlepas dari komik, dan lebih cenderung berkenalan dengan bacaan lainnya, saya menemukan sesuatu yang baru lagi , bagi saya tentunya, yakni cerita fiksi. Cerita fiksi yang saya gandrungi ini , memang diperuntukkan untuk usia ‘abg’ , yakni dari jenis dan kalangan muda yang bernama novel teenlit. Belakangan saya ketahui , bahwa teenlit merupakan singkatan teenager literature yang artinya diperuntukkan bagi usia remaja. Teenlit yang saya baca kebanyakan berisi standar, tentang percintaan ala anak ‘abg’, dan konflik picisan lainnya. Namun , saya kembali menemukan sesuatu yang berbeda, saya merasakan dunia imaji dan imajinasi yang begitu pekat ketika membacanya. Saya dapat merasakan emosi yang ada dalam cerita itu, dan mengena tepat di psikis saya. pertama kali teenlit yang saya baca , yakni me vs high heels , lalu dealova, big brother complex , dan sederet teenlit lainnya. Dari pembacaan teenlit ini, muncul suatu minat yang kuat , dan minat ini saya temukan pada usia kepompong saya tersebut. Minat akan dunia tulis - menulis, tepatnya setelah saya mengenal tulis – menulis saat ini adalah sastra. Saya merasa ingin terlibat bermain di hamparan imaji dan imajinasi tersebut. Meskipun sampai saat ini, belum ada suatu karya pasti yang saya buat , karena kebanyakan karya sederhana yang saya buat selalu terdampar entah ke mana , akan tetapi saya masih memiliki suatu harapan yang besar. Saya ingin , karya imaji dan imajinasi saya suatu saat ikut berbaur menyatu dengan deretan cerita fiksi karya orang – orang hebat lainnya. Terakhir yang bukan akhir, saya sangat senang akan adanya kesempatan yang diberikan Bapak Irsyad Redo untuk saya membagikan kisah – kisah indah dari masa lampau. Ini merupakan tugas mulia , dan membuat saya tergerak untuk terus menulis, menghasilkan buah pikiran menjadi karya – karya apik nan sederhana. Semoga , kisah metamorfosa ini bermanfaat bagi siapapun yang membaca. -Sketsa fiksi -

Tidak ada komentar:

Posting Komentar