Aku berteriak, keraaaas sekali. Tapi tak satupun
menggubris pekikan ku. Sekejap langkah ku membabi buta, teronggok jejak ku
sendiri yang tak lain sekat buram yang rupanya sedari tadi mengungkung
langkahku sendiri. Aku mencoba tenang, dan kini untuk menutupinya aku mencoba
bersenandung. Namun senandungku makin lama makin sumbang dan terdengar pilu. Ku
putuskan untuk menghentikannya, merajuk pada udara yang ada.
Aku mengambil jarak dengan bulan yang terlihat muram
malam itu. dan membingkiskan kiasan lucu untuk mengantar kemuramannya pada
jejak-jejak kelabu. Bukan terima kasih yang kudapat dari bulan yang muram
itu, melainkan pekikan sembilu. Bulan itu menyergapku dengan makian yang juga
sembilu. Entah, aku jadi bingung sendiri, bulan tak biasanya mengumumkan
kelaraannya pada semesta, tapi ini lain. Lantas ku tengilkan tendensiku,
sejurus kemudian aku memekik : hei! Apa-apaan ini, kau tidak lihat? Aku juga
penuh dengan pilu dan lara! Bukan hanya kau bulan.
Bulan yang muram itu hanya terdiam, sambil sesekali mencuri
pandang. Bulan yang muram itu lama-kelamaan sesenggukan,ah rupanya ia tak kuat
menahan pilunya sendiri setelah sebelumnya aku menghujaninya kata-kata sembilu!
Sudah genap sepuluh putaran bumi berotasi sesuai
siklusnya, tapi bulan itu tetap saja muram. Aneh , sungguh aneh. Tak biasanya
bulan begitu muram, ia pun tidak tampil cantik dan indah. Baiklah,sampai di
sini aku menyerah untuk mencoba menadah tanya untuknya. Tak akan ada hasil bila
bulan sudah masuk siklus muramnya, dan tak akan ada keindahannya.
Bulan malam ini indah, akhirnya setelah beberapa
hitungan putaran bumi berotasi, ia terlihat indah juga. Bulan malam ini memang
indah, namun terlihat muram. Ada sekat antara aku dengannya. Tapi itu tak
menepis sensitifku untuk tahu bahwa ia sedang muram. Bulan yang muram, dan
bulan itu merunduk malu. Lalu ia pergi dengan sembunyi di balik kepulan awan.
Kepada bulan yang muram dalam jejak
hitam, cibubur 10 agustus 2011


