Selasa, 18 Januari 2011

#sekeping fiksi

sorotan nanar mengarah padaku, menegaskan garis kefanaan yang mengoyak dentingan langkahku. dua , tiga , empat aku mencoba mengurut bilangan tapi malah sebilah dua bilah benda runcing menghujami bayanganku.. berusaha menadahkan jawaban yang tak pernah bisa terjawab. sorotan itu terus menelanjangi setiap sudut liku gerakanku.. mencari celah lemah ku , berusaha menekanku hingga ciut layaknya segelintir barisan semut. dua bilah tiga bilah benda runcing juga masih menginterogasi bayanganku.. tak ada sisa ruang -lagi bayang untukku berlari dari sorot tikam dan bilah runcing itu. aku kini tergugup, pekat , tandus. aku sungguh pekat oleh sorot nanar tikam dan aku makin tandus dengan bilah runcing yang kini memotong-motong dan memisah bayanganku yang tegak lurus dengan matahari. aku kini kepingan. ooh tidak, ternyata itu bayang. bayanganku kini kepingan - kepingan mini yang menyedihkan yang masih berusaha membentuk refleksi diriku seutuhnya. walau dengan bentuk mini bayangku kini sebuah miniatur, miniatur dalam 'kepingan sekeping fiksi'

Tidak ada komentar:

Posting Komentar