Di kesekian adegan pementasan panggung kehidupan, tertoreh lagi kisah baru , gadis cokelat itu kini makin terseok-seok, rapuh , dan hampir damai. Ia paksakan terus kakinya menjejali sudut liku tajam bebatuan kehidupannya. Wajah sembilunya datar, wajah tak elok itu sangat datar, meski sayup-sayup seperti menyuarakan kegentingan hidup. Gadis cokelat mengayunkan tangannya membelai tetesan kristal bening dari pipi tak eloknya , ia berseru "tak mengapa , tak mengapa , mungkin tuhan telah melukiskannya dalam sketsa kehidupan yang indah" gadis cokelat itu terus berjalan , meski tapakannya melepuh terkena teriknya sinar kehidupan yang menantangnya..
Episode ungu
gadis cokelat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar