Jumat, 11 November 2011

ABSTRAKSI KEHIDUPAN jilid dua

Aku berteriak, keraaaas sekali. Tapi tak satupun menggubris pekikan ku. Sekejap langkah ku membabi buta, teronggok jejak ku sendiri yang tak lain sekat buram yang rupanya sedari tadi mengungkung langkahku sendiri. Aku mencoba tenang, dan kini untuk menutupinya aku mencoba bersenandung. Namun senandungku makin lama makin sumbang dan terdengar pilu. Ku putuskan untuk menghentikannya, merajuk pada udara yang ada. 

Aku mengambil jarak dengan bulan yang terlihat muram malam itu. dan membingkiskan kiasan lucu untuk mengantar kemuramannya pada jejak-jejak kelabu. Bukan terima kasih yang kudapat dari bulan yang muram itu, melainkan pekikan sembilu. Bulan itu menyergapku dengan makian yang juga sembilu. Entah, aku jadi bingung sendiri, bulan tak biasanya mengumumkan kelaraannya pada semesta, tapi ini lain. Lantas ku tengilkan tendensiku, sejurus kemudian aku memekik : hei! Apa-apaan ini, kau tidak lihat? Aku juga penuh dengan pilu dan lara! Bukan hanya kau bulan.

Bulan yang muram itu hanya terdiam, sambil sesekali mencuri pandang. Bulan yang muram itu lama-kelamaan sesenggukan,ah rupanya ia tak kuat menahan pilunya sendiri setelah sebelumnya aku menghujaninya kata-kata sembilu! 

Sudah genap sepuluh putaran bumi berotasi sesuai siklusnya, tapi bulan itu tetap saja muram. Aneh , sungguh aneh. Tak biasanya bulan begitu muram, ia pun tidak tampil cantik dan indah. Baiklah,sampai di sini aku menyerah untuk mencoba menadah tanya untuknya. Tak akan ada hasil bila bulan sudah masuk siklus muramnya, dan tak akan ada keindahannya.

Bulan malam ini indah, akhirnya setelah beberapa hitungan putaran bumi berotasi, ia terlihat indah juga. Bulan malam ini memang indah, namun terlihat muram. Ada sekat antara aku dengannya. Tapi itu tak menepis sensitifku untuk tahu bahwa ia sedang muram. Bulan yang muram, dan bulan itu merunduk malu. Lalu ia pergi dengan sembunyi di balik kepulan awan.

Kepada bulan yang muram dalam jejak hitam, cibubur 10 agustus 2011

Minggu, 06 November 2011

Antara menutup mata atau menjadi gila ?

lama saya tertegun dengan wacana besar dalam kepala saya yaitu memilih menutup mata saja, atau menjadi gila?.. jelas tidak mudah, tetapi saya sangat ingin melakukannya. 
saya sangat ingin merasakan menjadi gila, ya orang yang gila, yang tidak dapat berpikir dengan baik. yang telah mengalami kerusakan sel - sel otak hingga pikirannya bebas terbang ke dunia imaji yang hanya dimengerti oleh si penggila tersebut. 

atau...
menutup mata? kalau menutup mata dalam artian masa bodoh atau acuh tak acuh, saya memang sudah sering melakukannnya, namun menutup mata dalam artian tidak adanya lagi kehidupan belum pernah saya lakukan. ya, saya tau akan tiba saatnya nanti, semua akan kembali ke pangkuan - NYA.. tetapi saya sering merasa lelah dengan jalan cerita yang telah ditulis untuk kehidupan saya, sehingga saya jadi lebih sering meminta percepatan waktu untuk menutup mata. naif dan munafik bukan? ya, saya rasa semua orang punya sisi hitamnya masing - masing. dan inilah saya, dengan ketidak terbatasan sisi hitam saya, saya berada di dua jurang antara memilih menutup mata atau menjadi gila saja? 

terlalu panjang, jika saya beberkan apa yang membuat saya bisa senaif ini.. kembali lagi seperti yang telah saya katakan tadi, bahwa saya merasa lelah mengikuti labirin cerita yang telah ditulis untuk kehidupan saya oleh Tangan Khas - NYA... seringkali saya kualahan menjadi pemain atas lika - liku labirin cerita ini. maka munculah dua opsi dari sisi hitam saya tersebut.. menjadi gila saja atau menutup mata saja?